Thursday, April 30, 2009

SALAHUDDIN AL AYYUBI


Salahuddin Ayyubi


Although he loved peace, Salahuddin Ayyubi became one of the world's greatest warriors. He was born in Tekrit in 1138 CE when his father Ameer Najmudin was the ruler of Tekrit. He was brought up by his noble father and talented uncle, Asad-ud-din Shirkhu. Salahuddin was a very intelligent and noble person. He loved peace and never enjoyed fighting battles. But all changed when Salahuddin was ordered to go to Egypt with his uncle. He went to Egypt many times with his uncle to fight two enemies, the Franks and the Batnids. After his uncle's death, he became the commander and Vizier of Egypt. Salahuddin Ayyubi never lived in the palace. Instead, he lived in a small house near the mosque. Salahuddin had a great love for Islam and as the vizier and general of Egypt, he tried hard to root out the Crusaders. For this purpose, he maintained a strong army. He established peace and prosperity throughout the country. From the beginning, many prejudiced Egyptian ministers disliked him. When they saw he was winning the hearts of the Egyptian people they did many conspiracies against him but due to Salahuddin's wisdom, they were defeated. When the Fatmid caliph Al Aziz died, Salahuddin became the ruler of Egypt. When Salahuddin took over Damascus the people opened the gates of the city to him and greeted him warmly.

The Crusaders were not happy by Salahuddin's increasing power and success. Uniting their forces, they planned a decisive attack on Muslim area. Battle of Hittin took place. Muslims won under the leadership of Salahuddin. Thousands of Crusaders were arrested. Salahuddin treated the prisoners with tolerance.

In 1187 CE, Salahuddin conquered Jerusalem. Thousands of Crusaders were arrested. However, when their mothers, sisters, and wives appealed to Salahuddin, he released them. Many crusaders were ransomed. However, he paid for many of them. In addition, he provided them transport, etc. He allowed neither massacre nor looting. He gave free pardon to all citizens. He even arranged for their traveling. He granted freedom to Christians to leave the city if they paid a small tribute. Salahuddin paid it, himself, for about ten thousand poor people. His brother paid it for seven thousand people. Salahuddin also allocated one of the gates of the city for people who were too poor to pay anything that they leave from there.

On Friday 27th Rajab 583 AH, Salahuddin entered Jerusalem. After entering the city they went straight to the Mosque and cleaned it. Then for the first time in more then 80 years, the people of Jerusalem heard the Azan (call of prayer) from Al Aqsa Mosque.

Friday, November 28, 2008

UNTUK KITA RENUNGKAN

6 Persoalan Hidup

Oleh: Al-Ghazali
Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya,Pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawapan itu benar.Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "mati". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)
Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?". Murid -muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahawa semua jawapan yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "masa lalu". Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab gunung,bumi, dan matahari. Semua jawapan itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu" (Al A'Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?". Ada yang menjawap baja, besi, dan gajah. Semua jawapan hampir benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT,sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.
Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?". Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Sholat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan solat, gara-gara meeting kitatinggalkan sholat.
Lantas pertanyaan ke enam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang. Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Monday, November 17, 2008

Pertanyaan Malaikat Penjaga Alam Kubur

Malaikat Alam Kubur bertanya kepada Syekh Yahya bin Mu'adz Ar-Razi, setelah sang tokoh Sufi tersebut meninggal dunia.
"Apakah yang telah Anda bawa?"
Beliau menjawab dengan tenang,
"Sungguh benar pernyataan guruku, Rasulullah Muhammad SAW, bahwa dunia adalah penjara bagi yang beriman. Sekarang beritahukan kepadaku, apa yang dapat dibawa oleh seorang yang terpenjara?"
Mendengar jawaban tersebut Sang Malaikat meninggalkannya, dan kuburan Syekh Yahya dijadikan sebuah taman.
Setelah Abu Yazib Al-Bustami wafat dan dikuburkan, Malaikat datang dan bertanya,
"Wahai orang tua, apa yang Anda bawa?"
Beliau menjawab,
"Ketika seseorang tiba di pintu raja, tidak ditanyakan apa yang dia bawa, sebaliknya apa yang akan dia terima?"
Malaikat alam kubur pun merasa senang mendengar jawaban Abu Yazib tersebut.
Setelah meninggal dunia, Rabi'ah Al-Adawiyah didatangi Malaikat dan ditanya,
"Siapakah Tuhanmu?"
Sang Sufi besar Wanita ini menjawab,
"Katakan kepada Tuhanmu atas namaku: "Diantara sekian banyak makhluk yang ada, janganlah Engkau melupakan seorang wanita tua yang lemah. Aku hanya memiliki Engkau di dunia yang luas, tidak pernah lupa kepada-Mu. Tetapi, mengapa Engkau mengirim utusan kepadaku hanya untuk menanyakan siapakah Tuhanku?" Sekarang pergilah kepada Tuhanmu, untuk menyampaikan pesanku itu."
Malaikat bertanya kepada Junaid Al-Baghdadi di kuburannya,
"Siapakah Tuhanmu?"
Junaid sang Wali Qutub menjawab,
"Tuhanku adalah Dia yang telah memerintahkan Malaikat agar bersujud di hadapan Nabi Adam AS."
Mendengar jawaban tersebut, kedua Malaikat alam kubur terpesona lalu pergi.
Setelah meninggal dunia, Syekh Abdul Qadir Jailani didatangi Malaikat dan ditanya,
"Siapakah Tuhanmu?"
Sang Wali Qutub pun menjawab,
"Aneh, Anda telah turun dari Sidratul Muntaha dan Tidak melupakan Allah SWT. Lalu haruskah Aku yang telah turun hanya empat kaki, melupakan segala sesuatu?"
Setelah itu pintu Rahmat Allah SWT terbuka, dan kuburan Beliau berubah menjadi sebuah Taman.